ABOUT US

Our development agency is committed to providing you the best service.

ACHIEVEMENTS

We help our clients integrate, analyze, and use their data to improve their business.

150

GREAT PROJECTS

300

HAPPY CLIENTS

650

COFFEES DRUNK

1568

FACEBOOK LIKES

STRATEGY & CREATIVITY

Phasellus iaculis dolor nec urna nullam. Vivamus mattis blandit porttitor nullam.

PORTFOLIO

We pride ourselves on bringing a fresh perspective and effective marketing to each project.

  • Model Pembelajaran Inquiry dan Discovery


    Seorang guru  yang profesional dituntut untuk dapat menampilkan keahlian di depan kelas. Salah satu komponen keahlian itu adalah kemampuan untuk menyampaikan pelajaran kepada siswa. Untuk dapat menyampaikan pelajaran dengan efektif dan efisien, guru perlu mengenal berbagai jenis strategi belajar mengajar sehingga dapat memilih strategi manakah yang paling tepat untuk suatu bidang pengajaran. Strategi belajar mengajar merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pengajaran tertentu, yang meliputu sifat, lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa. Strategi belajar mengajar di sini merupakan pemilihan jenis latihan tertentu yang cocok dengan tujuan yang akan dicapai. Tiap tingkah laku yang harus dipelajari perlu dipraktekkan. Karena setiap materi dan tujuan pengajaran berbeda satu sama lain, maka jenis kegiatan yang harus dipraktekkan oleh siswa memerlukan persyaratan yang berbeda pula. Sehingga perlu adanya kaitan antara strategi belajar mengajar dengan tujuan pengajaran, agar diperoleh langkah-langkah kegiatan belajar-mengajar yang efektif dan efisien. Strategi belajar mengajar terdiri dari metode dan teknik (prosedur) yang akan menjamin bahwa siswa akan betul-betul mencapai tujuan.
    Kata metode dan teknik sering digunakan secara bergantian. Gerlach dan Ely dalam bukunya ”Teaching and Media: A Systematic Approach” mengemukakan bahwa teknik (yang kadang-kadang disebut metode) dapat diamati dalam setiap situasi belajar mengajar. Teknik adalah jalan atau alat yang digunakan guru untuk mengarahkan kegiatan siswa kearah tujuan yang ingin dicapai. Guru yang efektif, sewaktu-waktu siap menggunakan berbagai metode dengan efektif dan efisien menuju tercapainya tujuan.
    Metode menurut Winarno Surakhmad (dalam Uno: 2007) adalah cara yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan. Hal ini berlaku baik bagi guru (metode mengajar) maupun bagi siswa (metode belajar). Makin baik metode yang dipakai, makin efektif pula pencapaian tujuan.
    Dalam makalah ini akan dibahas tentang metode pendekatan pembelajaran inquiry dan discovery (Guided Discovery Lesson atau pelajaran dengan penemuan terbimbing).

    A.    Pengertian Model Pembelajaran Inquiry Dan Discovery
    Inquiry berarti pertanyaan, atau pemeriksaan, penyelidikan (Trianto, 2007:135). David L. Haury dalam artikelnya, Teaching Science Through Inquiry (dalam Sutrisno: 2008) mengutip definisi yang diberikan oleh Alfred Novak: inquiry merupakan tingkah laku yang terlibat dalam usaha manusia untuk menjelaskan secara rasional fenomena-fenomena yang memancing rasa ingin tahu. Dengan kata lain, inquiry berkaitan dengan aktivitas dan keterampilan aktif yang fokus pada pencarian pengetahuan atau pemahaman untuk memuaskan rasa ingin tahu.
    Sund (dalam Trianto: 2007) menyatakan bahwa discovery merupakan bagian dari inquiry, atau inquiry merupakan perluasan proses discovery yang digunakan lebih mendalam. Inquiry sebagai suatu proses umum yang dilakukan manusia untuk mencari atau memahami informasi. Jadi strategi inquiry dan discovery berarti suatu rangkaian kegiatan belajar antara siswa dan guru sebagai pembimbing untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.
    Metode inquiry yang mensyaratkan keterlibatan aktif siswa terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar dan sikap anak terhadap Sains. Selanjutnya, metode pembelajaran ini berupaya menanamkan dasar-dasar berfikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang belajar.
    Peranan guru dalam pembelajaran dengan metode inquiry adalah sebagai pembimbing dan fasilitator. Memilih masalah yang perlu disampaikan kepada kelas untuk dipecahkan. Selanjutnya adalah menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah.

    B.     Langkah-Langkah Model Pembelajaran Inquiry dan Discovery
    Langkah langkah dalam melaksanakan model pembelajaran ini antara lain:
    1.      Merumuskan masalah
    Guru menyajikan permasalahan berupa pokok-pokok materi yang akan disampaikan.
    2.      Adanya Hipotesis
    Guru menceritakan fenomena-fenomena yang terjadi. Atau fakta-fakta yang ada hubungannya dengan materi yang akan disampaikan.
    3.      Mengumpulkan Bukti
    Siswa melakukan percobaan dan penelitian dalam pencarian fakta-fakta. Dari berbagai macam sumber dan penggunaan alat-alat percobaan.
    4.      Menguji Hipotesis
    Mencocokkan hipotesis yang ada dengan fakta-fakta yang ditemukan dari hasil percobaan.
    5.      Menarik Kesimpulan
    Hal–hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan model pembelajaraninquiry dan discovery antara lain:
    a)      Question (pertanyaan). Pembelajaran biasanya dimulai dengan sebuah pertanyaan pembuka yang memancing rasa ingin tahu siswa dan atau kekaguman siswa akan suatu fenomena. Untuk memudahkan proses ini, guru menanayakan kepada siswa mengenai hipotesis yang memungkinkan.
    b)      Student Engangement (peran siswa aktif). Keterlibatan aktif siswa merupakan suatu keharusan.
    c)      Cooperative Interaction (interaksi yang kompak dengan anggota kelompok).
    d)     Performance Evaluation. Siswa dapat memecahkan masalah yang dihadapi. Selain itu siswa diminta untuk dapat mengembangkan pengetahuan tersebut berupa membuat suatu produk yang berkaitan dengan materi. Misalnya membuat kerajinan, karangan, puisi, dan lain-lain yang merupakan pembelajaran yang bermakna.
    e)      Variety of Resources. Siswa dapat menggunakan bermacam-macam sumber belajar, misalnya buku teks, website, televisi, video, poster, wawancara dengan ahli, dan lain sebagainya.
    Contoh penggunaan  model pembelajaran inquiry-discoverydalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
    1)      Guru menyiapkan satu materi yang dianggap cocok untuk inquiry-discovery. (lihat Lampiran 1)
    2)      Guru menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
    (lihatLampiran 2)
    3)      Merumuskan masalah yang akan diberikan kepada siswa dengan data secukupnya, yang dinyatakan dengan pernyataan atau pertanyaan.
    4)      Pengarahan sebelum siswa melakukan kegiatan. Alat/bahan perlu disediakan sesuai dengan kebutuhan siswa dalam melaksanakan kegiatan.
    5)      Guru membentuk kelompok-kelompok dan memberikan lembar pertanyaan yang disertai langkah-langkah dalam melakukan percobaan. (lembar kerja kelompok lihat lampiran 3)
    6)      Siswa melaksanakan percobaan/ penelitian berdasar lembar kerja kelompok.
    7)      Peran aktif siswa dalam mengumpulkan bukti-bukti.
    8)      Guru meminta ketua kelompok untuk membacakan hasil penelitian, dan siswa lain menanggapi.
    9)      Siswa dibantu guru memberikan kesimpulan dari hasil penelitian.
    10)  Guru memberikan penguatan.

    C.    Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Inquiry dan Discovery
    Dalam segala model pembelajaran pasti dalam proses pengimplementasiannya dan evaluasi terdapat kelebihan dan kelemahan.
    Kelebihan dari Model Penemuan terbimbing adalah sebagai berikut:  
    1.      Siswa dapat berpartisipasi aktif dalam pembelajaran yang disajikan.
    2.      Menumbuhkan sekaligus menamkan sikap inquiry (mencari-temukan).
    3.      Mendukung kemampuan problem solving siswa
    4.      Memberikan wahana interaksi antar siswa, maupun siswa dengan guru, dengan demikian siswa juga terlatih untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
    5.      Materi yang disajikan dapat mencapai tingkat kemampuan yang lebih tinggi dan lebih lama membekas karena siswa dilibatkan dalam proses menemukannya
    Kekurangan dari Model Penemuan terbimbing adalah sebagai berikut:  
    1.      Untuk materi tertentu, waktu yang tersita lebih lama.
    2.      Tidak semua siswa dapat mengikuti pelajaran dengan cara ini. Dilapangan beberapa siswa masih terbiasa dan mudah mengerti dengan model ceramah.
    3.      Tidak semua topik cocok disampaikan dengan model ini. Umumnya topik-topik yang berhubungan dengan prinsip dapat dikembangkan dengan Model Penemuan Terbimbing.
  • MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM THE GRASS ROOTS MODEL

    The Grass Roots Model merupakan salah satu dari delapan model pengembangan kurikulum. Kedelapan model pengembangan kurikulum tersebut adalah the administrative model, the grass roots model, beauchamp’s system, the administration model, taba’s inverted model, roger’s interpersonal telations model, the systematic action research model, emerging technical models. Setelah mengetahui model- model pengembangan kurikulum maka, bagaiamanakah implementasi yang berjalan disekolah, yang mencakup rencana, pelaksanaan, dan evaluasi? Inilah yang menjadi pokok pertanyaan yang mendasar dalam konteks hal ini.
    Dalam tahapan perencanaan The Grass Roots Model inisiatif dan gagasan pengembangan kurikulum datang dari seorang guru sekelompok guru atau keseluruhan guru di suatu sekolah. Sehingga dalam pelaksanaannya guru merupakan perencana, pelaksana, dan juga penyempurna pengajaran dikelasnya. Prinsip dalam pelaksanaan The Grass Roots Model Guru sebagai kunci dalam rekayasa kurikulum yang efektif, digambarkan pada 4 prinsip dibawah ini : (1) Kurikulum akan baik apabila kemampuan profesional guru baik. (2) Kompetensi guru akan membaik apabila guru terlibat secara pribadi dalam masalah perbaikan/revisi kurikulum. (3) Jika guru ikut serta dalam membentuk tujuan-tujuan yang akan dicapai dalam memilih, mendefinisikan, memecahkan masalah yang akan dihadapi, mempertimbangkan dan menilai hasil maka keterlibatannya paling terjamin. (4) Setiap orang yang bertemu dalam kelompok dan bertatap muka, mereka akan dapat memahami satu sama lain dengan lebih baik dan mencapai suatu konsensus berdasarkan prinsip-prinsip dasar, tujuan dan rencana. (Stanley, Smith and Shores 1957:429)
    Prinsip ini bersifat operasional, karena guru didorong untuk bekerja secara kooperatif dalam merencanakan kurikulum baru. Dorongan terjadi bila pihak administrator menyediakan jabatan, waktu luang, material dan rangsangan lain yang kondusif terhadap perencanaan kurikulum. Dalam tahapan evaluasi dapat ditarik kesimpulan yaitu demi tanggung jawab dan kepentingan dari siswa maka hal-pengembangan kurikulum tidak hanya guru yang terlibat tetapi harapannya juga harus melibatkan orang tua siswa. The Grass Roots Model  hanya mungkin terjadi manakala guru memiliki sikap professional yang tinggi disertai kemampuan yang memadai. Sikap professional itu biasanya ditandai dengan keinginan untuk mencoba dan mencoba sesuatu yang baru dalam upaya untuk meningkatkan kinerjanya. Seorang professional itu akan selalu berusaha menambah pengetahuan dan wawasannya dengan menggali sumber-sumber pengetahuan. Ia juga akan selalu mencoba dan mencoba untuk mencapai kesempurnaan. Ia tidak akan puas dengan hasil yang minimal. Ia akan bisa tenang manakala hasil kinerjanya sesuai dengan target maksimalnya. Dalam kondisi yang demikianlah grass roots akan terjadi. Pengembangan kurikulum yang bersifat grass roots, mungkin hanya berlaku untuk bidang studi tertentu atau sekolah tertentu, tetapi mungkin pula dapat digunakan untuk seluruh bidang studi pada sekolah atau daerah lain. Pengembangan kurikulum yang bersifat desentralistik dengan model grass rootsnya, memungkinkan terjadinya kompetisi dalam meningkatkan mutu dan sistem pendidikan, yang pada gilirannya akan melahirkan manusia-manusia yang lebih mandiri dan kreatif.

    Sekian artikel ini kami buat, kurang dan lebihnya kami mohon maaf. Kami mengharapkan pencerahan jikalau artikel ini salah atau kurang berkenen di hati anda. Terimakasih.
  • Teori Belajar Operant Conditioning Skinner dengan Percobaan Tikus sebagai Eksperimen


    Living is Learning merupakan sepenggal kalimat yang dikemukakan oleh Havigrusht. Dengan kalimat tersebut memberikan gambaran bahwa belajar merupakan hal yang sangat penting, sehingga tidaklah mengherankan bahwa banyak orang ataupun ahli yang membicarakna masalah belajar. Hampir semua pengetahuan, sikap, ketrampilan, perilaku manusia dibentuk, diubah dan berkembang melalui belajar . Kegiatan belajar dapat dapat berlangsung dimana saja dan kapan saja. Dirumah, disekolah, di pasar, di toko, di masyarakat luas, pagi, sore dan malam. Karena itu, belajar merupakan masalah bagi setiap manusia. Oleh sebab itu dibutuhkan cara belajar yang tepat untuk menghasilkan perubahan sikap yang baik pula.
    Banyak teori tentang belajar yang telah berkembang mulai abad ke 19 sampai sekarang ini. Pada awal abad ke 19 teori belajar yang berkembang pesat dan memberi banyak sumbangan terhadap para ahli psikologi adalah teori belajar tingkah laku (Behaviorisme) yang awal mulanya dikembangkan oleh psikolog Rusia Ivan Pavlov (tahun 1990) dengan teorinya yang dikenal dengan istilah pengkondisian klasik (classical conditioning) dan kemudian teori belajar tingkah laku ini dikembangkan oleh beberapa ahli psikologi yang lain seperti Edward Thorndike, B.F Skinner dan Gestalt. Teori belajar behaviorisme ini berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati, pengulangan dan pelatihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori behavioristik ini adalah terbentuknya suatu perilaku yang diinginkan. Perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negative. Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang tampak. Dalam teori belajar ini guru tidak banyak memberikan ceramah, tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi.

    Skinner (1958) memberikan definisi belajar “ Laerning is a process of progressive behavior adaptation”. Dari definisi tersebut dapat dijelaskan bahwa belajar itu merupakan suatu proses adaptasi perilaku yang bersifat progresif. Ini berarti bahwa sebagai akibat dari belajar adanya sifat progresifitas, adanya tendensi kearah yang lebih baik dari keadaan sebelumnya.
    McGeoch (lih. Bugelski, 1956) memberikan definisi tentang belajar “ Learning as a result of practice”. Ini berarti bahwa belajar membawa perubahan pada penampilan dan perubahan itu sebagai akibat dari latihan (practice). Pengertian latihan atau practice mengandung arti bahwa adanya usaha dari individu yang belajar. Baik yang dikemukakan oleh Skinner maupun yang dikemukakan oleh McGeoch memberikan gambaran bahwa sebagai akibat belajar adanya perubahan yang dialami oleh individu yang bersangkutan. Hanya oleh McGeoch dikemukakan perubahan itu sebagai akibat dari latihan, sedangkan apa yang dikemukakan Skinner tidak secara jelas hal tersebut diajukan.
    Horgan, dkk (1984) memberikan definisi mengenai belajar “ Learning can be defined as any relatively permanent change in behavior which occurs as a result of practice or experience”. Hal yang muncul dalam definisi adalah perubahan perilaku atau performance itu relative permanent.. Di samping itu juga dikemukakan bahwa perubahan prilaku itu sebagai akibat belajr dari latihan (practice) atau karena pengalaman (experience). Pada pengertian latihan dibutuhkan usaha dari individu yang bersangkutan, sedangkan dari pengertian pengalaman usaha tersebut tidak tentu diperlukan. Ini mengandung arti bahwa dengan pengalaman seseorang atau individu dapat berubah perilakunya, disamping perubahan itu dapat disebabkan oleh karena latihan.
    Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa belajar secara sederhana dikatakan sebagai proses perubahan dari belum mampu menjadi sudah mampu, terjadi dalam jangka waktu tertentu. Perubahan yang terjadi itu harus secara relative bersifat menetap (permanent) dan tidak hanya terjadi pada perilaku yang saat ini nampak (immediate behavior) tetapi juga pada prilaku yang mungkin terjadi di masa mendatang (potential behavior. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa perubahan-perubahan tersebut terjadi kareana pengalaman.
    Menurut teori behavioristik belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman (Gage, Berliner, 1984). Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh siswa (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
    Teori belajar behavioristik yang dicetuskan oleh Gagne dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
    Teori behavioristik memandang individu hanya dari sisi jasmaniah, dan mengabaikan aspek-aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih siswa sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. Beberapa prinsip dalam teori belajar behavioristik, meliputi: (1) Reinforcement and Punishment; (2) Primary and Secondary Reinforcement; (3) Schedules of Reinforcement; (4) Contingency Management; (5) Stimulus Control in Operant Learning; (6) The Elimination of Responses. Kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku dimana reinforcement dan punishment menjadi stimulus untuk merangsang pembelajar dalam berperilaku.
    Teori behavioristik banyak dikritik karena seringkali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan belajar yang dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Teori ini tidak mampu menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam hubungan stimulus dan respon. Pandangan behavioristik juga kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi siswa, walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama. Pandangan ini tidak dapat menjelaskan mengapa dua anak yang mempunyai kemampuan dan pengalaman penguatan yang relatif sama, ternyata perilakunya terhadap suatu pelajaran berbeda, juga dalam memilih tugas sangat berbeda tingkat kesulitannya. Pandangan behavioristik hanya mengakui adanya stimulus dan respon yang dapat diamati. Mereka tidak memperhatikan adanya pengaruh pikiran atau perasaan yang mempertemukan unsur-unsur yang diamati tersebut.
    Teori behavioristik juga cenderung mengarahkan siswa untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa siswa menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan siswa tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Demikian halnya dalam pembelajaran, siswa dianggap sebagai objek pasif yang selalu membutuhkan motivasi dan penguatan dari pendidik. Oleh karena itu, para pendidik mengembangkan kurikulum yang terstruktur dengan menggunakan standar-standar tertentu dalam proses pembelajaran yang harus dicapai oleh para pebelajar. Begitu juga dalam proses evaluasi belajar pebelajar diukur hanya pada hal-hal yang nyata dan dapat diamati sehingga hal-hal yang bersifat tidak teramati kurang dijangkau dalam proses evaluasi.
    Box yang digunakan skinner utuk melakukan eksperimen disebut skinner box. Yaitu sebuaah box yang didalamnya terdapat ; pengungkit, tempat makanan (penampung makanan), lampu (yang dapat di nyalakan dan dimatikan sesuai kehendak eksperimenter), dan lantai dengan gril yang dapat dialiri listrik. Skinner menggunakan tikus sebagai binatang cobanya. Tikus yang akan dicobadibuat lapar terlebih dahulu kemudian dimasukan kedalam box. Karena dalam keadaan lapar, diasumsikan tikus akan memiliki dorongan untuk mencari makanan. Tikus yang dimasukan teersebut ternyata membuat gerakan-gerakan atau respons dan kebetulan menyentuh pengungkit. Banyaknya sentuhan atau penekanan pada waktu tertentu dihitung sebelum terbentuk kondisioning operand an hal ini disebut dengan bas line atau operant level. Setelah hal ini diketahui, selanjutnya yang akan dilakukan yaitu mengaktifkan alat pemberi makanan. Sehingga ketika tikus menyentuh pengungkit, makanan akan jatuh ketempat makanan. Tikus akan segera memakan makanan tersebut, dan jika menginginkan makanan lagi maka tikus akan menyentuh pengungkit kembali. Dalam hal ini makanan sebagai reward akan memperkuat frekuensi seringnya tikus akan melakukan penekanan pengungkit. Sehingga dengan begitu akan terbentuklah kondisioning operan. Jika sudah terbentuk operan, dan jika tikus menekan kembali pengungkit tetapi tidak mendapatkan makanan maka akan terjadi extinction seperti halnya pada kondisioning klasik. Jika suatu ketika saat tikus menekan pengungkit kembali dan diberikan makanan setelah tikus menekan pengungkit, maka akan segera kembali dengan cepat terbentuk kondisioning operan. Hal inilah yang sering disebut dengan spontaneous recovery yang juga terjadi pada kondisioning klasik.
    Bagaimana aktivitas tikus didalam box dicatat dengan alat dalam bentuk komulatif (cumulatif record), yaitu mencatat jejak (track) dari tikus dalam box. Karena catatan bersifat komulatif maka catatan tersebut tidak pernah turun. Waktu dicatat pada X, dan jumlah respons pada Y.
    Teori operant conditioning dikembangkan oleh Burr Federic Skinner (1904-1990). Skinner memandang manusia sebagai mesin. Seperti mesin lainnya, manusia bertindak secara teratur dan dapat diramalkan responsnya terhadap stimulus yang dating dari luar. Dalam mengkaji tentang belajar, Skinner memiliki pandangan yang berbeda dengan Pavlov. Pavlov mempelajari tentang classical conditioning yang berkaitan dengan gerak refleks, sedangkan Skinner mempelajari gerak non refleks atau perilaku yang disengaja. skinner mengadakan eksperimen dikenal dengan Skinner box dengan menggunakan kotak yang didalamnya terdapat: pengungkit, panampung makanan,lampu yang dapat dinyalakan dan dimatikan sesuai kehendak peneliti, dan lantai dengan gril yang dialiri listrik.
    Berdasarkan pada eksperimen tersebut Skinner mengemukakan dua prinsip umum yang berkaitan dengan operant conditioning, adalah :
    a)      Setiap respons yang diikuti oleh penguatan (reward atau reinforcing stimuli) cenderung akan diulang kembali.
    b)      Reward atau reinforcing stimuli akan meningkatkan kecepatan terjadinya respons.
    Skinner membagi dua macam pengkondisian, yaitu :
    a)      Respondent conditioning (conditioning tipe S). disebut conditioning tipe S karena conditioning tipe ini menekankan pentingnya stimulus (S) dalam menimbulkan respons yang dikehendaki atau diinginkan. Conditioning ini sama dengan classical conditioning dari Pavlov.
    b)      Operant conditioning (conditioning tipe R). Disebut conditioning tipe R, karenaa conditioning ini menekankan pentingnya respons.
          Menurut skinner, hadiah dapat meningkatkan probabilitas timbulnya respons. Suatu tindakan dapat dinyatakan sebagai penguatan atau tidak adalah tergantung dari efek yang ditimbulkan. Tekanan utama dalam teori operant conditioning adalah respons atau perilaku dan konsekuensi yang menyertai. Oleh karena itu seseorang harus membuat respons sedemikian rupa untuk memperoleh penguatan atau hadiah yang menjadi stimulus yang memperkuat (reinforcement stimuli). Siswa yang belajar dengan sungguh-sungguh akan mendapatkan nilai yang baik dalam ujian. Nilai yang baik itu mendorong siswa untuk belajar lebih giat lagi. Nilai yang baik merupakan operant conditioning atau penguatan positif. Sebaliknya, anak yang mendapat nilai yang buruk pada waktu ujian, dia akan merasa takut tidak naik kelas. Karena takut tidak naik kelas, dia terdorong untuk belajar lebih giat lagi. Hal ini disebut dengan penguatan negatif. Dalam rangka pembentukan perilaku menurut Skinner perilaku yang ingin dibentuk itu perlu dianalisis atau dibagi menjadi menjadi tahapan-tahapan yang lebih kecil yang kesemuanya itu akan bermuara pada perilaku yang akan dibentuk tersebut. Untuk membentuk perilaku dengan shaping diperlukan langkah-langkah;
    a)      Membuat penjabaran perilaku yang akan dibentuk dalam perilaku-perilaku yang lebih kecil menuju ke perilaku yang akan dibentuk
    b)      Menentukan reinforcement yang akan digunakan
    c)      Reinforcement hanya akan diberikan pada perilaku yang makin dekat dengan perilaku yang akan dibentu.
    Teori Skinner sangat berpengaruh besar pada saat ini, terutama di Amerika Serikat dan negara-negara lainnya. Di dunia pendidikan, khususnya dalam lapangan metodologi dan teknologi pengajaran, pengaruh ini sangat besar. Program-program inovatif dalam bidang pengajaran sebagian besar disusun berdasarkan teori Skinner. Program-program tersebut misalnya:
    Programmed Instruction, dan sarananya programmed book.
    Computer Assisted Instruction (CAI), dan
    Program yang menggunakan teaching machine.

    Dalam kehidupan sehari-hari teori Skinner tentang pengkondisian ini sangat diminati saat ini karena memang memiliki fungsi yang sangat membantu manusia. Melalui teori ini orang-orang dapat melatih hewan peliharaan (kucing, anjing, burung dll.) maupun hewan-hewan yang berguna dalam membantu manusia (merpati, anjing polisi dll.). Dalam pengkondisian operan menurut Skinner ini, para pelaku eksperimen dapat mendorong perilaku baru dengan mengambil manfaat dari perbedaan tindakan subyek. Untuk melatih seekor anjing,agar bisa menekan bel dengan moncongnya, seorang penyelidik dapat memberikan imbalan setiap kali anjing tersebut mendekati kawasan bel, serta memberi isyarat bagi anjing untuk menyentuh bel. Dan jika akhirnya bel tersentuh, kembali diberi imbalan (penguatan).Dengan cara ini juga burung dara dapat dilatih dengan membentuk respon operan untuk menemukan lokasi orang-orang yang hilang di laut; ikan lumba-lumba dilatih untuk menarik peralatan di bawah air. Teori Skinner ini juga sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan, dimana rata-rata system pendidikan saat ini menerapkan system pengkondisian Skinner. Saat sensitifnya masalah hak asasi manusia (HAM), maka penerapan hukuman di dunia pendidikan mulai dikurangi dan beralih ke cara yang dperkenalkan Skinner yaitu bahwa hukuman tidak perlu, yang diperlukan adalah memberi hadiah bagi yang berprestasi untuk merangsang anak-anak yg tidak berprestasi untuk belajar lebih baik lagi.
    Dari penjelasan terperinci diatas tentang operant conditioning dapat diambil kesimpulan bahwa operant conditioning merupakan teori belajar yang menjelaskan bahwa sesuatu yang diikuti oleh konsekuensi yang menyenangkan akan cenderung diulang-ulang. Beberapa aplikasi teori belajar Skinner dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
    a)      Bahan yang dipelajari dianalisis sampai pada unit-unit secara organisi
    b)      Hasil berlajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan dan jika benar diperkuat.
    c)      Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
    d)     Materi pelajaran digunakan sistem modul.
    e)      Tes lebih ditekankan untuk kepentingan diagnostic.
    f)       Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
    g)      Dalam proses pembelajaran tidak dikenakan hukuman.
    h)      Dalam pendidikan mengutamakan mengubah lingkungan untuk mengindari pelanggaran agar tidak menghukum.
    i)        Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah.
    j)        Hadiah diberikan kadang-kadang (jika perlu)
    k)      Tingkah laku yang diinginkan, dianalisis kecil-kecil, semakin meningkat mencapai tujuan
    l)        Dalam pembelajaran sebaiknya digunakan shaping.
    m)    Mementingkan kebutuhan yang akan menimbulkan tingkah laku operan.
    n)      Dalam belajar mengajar menggunakan teaching machine.
    o)      Melaksanakan mastery learning yaitu mempelajari bahan secara tuntas menurut waktunya masing-masing karena tiap anak berbeda-beda iramanya. Sehingga naik atau tamat sekolah dalam waktu yang berbeda-beda.
    SIMPULAN
    Teori belajar menurut B.F Skinner, Operant Conditioning merupakan suatu bentuk belajar yang mana kehadiran respon berulang-ulang dikendalikan oleh konsekuensinya, dimana individu cenderung mengulang-ulang respon yang diikuti oleh konsekuensi yang menyenangkan. Adanya hukuman dan hadiah yang diberikan akan membuat individu lebih mudah untuk belajar.
    Menurut Skinner, unsur yang terpenting dalam belajar adalah adanya penguatan (reinforcement) dan hukuman (punishment). Penguatan (reinforcement) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Sebaliknya, hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.

    DAFTAR PUSTAKA
    RC Rifa’i, A., C. T. Anni. 2012. Psikologi Pendidikan. Semarang: UNNES PRESS. (100-102).
    Sukirman. 2016. Cetakan Buku Panduan Teori Belajar Tahun 2016. Semarang. (37-42).


  • LULUSAN PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN TAK HARUS JADI GURU


    LULUSAN PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN TAK HARUS JADI GURU

    “Berjuang demi nama negeri
    Harumkan nama ibu pertiwi
    Dalam kanca perbaikan generasi
    Bersama mengukir prestasi
    Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
    Wujud nyata dari anak-anak bangsa
    Demi tercapainya masa depan yang mulia
    Mahasiswa berilmu siap guna…”
    (Mars Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
    Univesitas Negeri Semarang)
    Teknologi Pendidikan (TP) merupakan salah satu Program Studi (prodi) S1 yang mempelajari tentang ilmu teknologi untuk diterapkan dalam jenjang pendidikan. Ilmu dari prodi teknologi pendidikan merupakan ilmu kependidikan. Salah satu dari beberapa perguruan tinggi negeri yang terdapat prodi TP adalah Universitas Negeri Semarang. Prodi ini memiliki sumber daya manusia yang berkualitas dalam mendampingi para mahasiswa untuk menumbuhkan sikap dan karakter, menguasai pengetahuan atau pedagogi, dan keterampilan unggul sebagai pengembang kurikulum, pengembang teknologi pembelajaran, pendidik bidang multimedia, maupun peneliti dalam bidang kajian kurikulum dan teknologi pendidikan sesuai dengan Mars Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Univesitas Negeri Semarang. Dalam proses perkuliahan calon lulusan TP didukung oleh fasilitas laboratorium dengan peralatan untuk melatih menguasai teori dan dibekali keterampilan sebagai teknologi pendidikan, diantaraya fotografi, sinematografi, desain grafis, dan broadcasting. Adapun sarana prasarana berupa ruangan yang digunakan untuk mengembangkan keterampilan mahasiswa dalam organisasi dan komunitas mahasiswa, antara lain Himpunan Mahasiswa, Dewan Perwakilan Mahasiswa, Gabungan Mahasiswa Pecinta Alam (GamaTePeta), Komunitas Sinematografi dan Fotografi, Komunitas Desain Grafis, dan Klub Karya Tulis Ilmiah.
    Teknologi pendidikan perlu dipikirkan dan dibahas terus menerus karena adanya kebutuhan real yang mendukung pertumbuhan dan perkembangannya, yaitu (i) tekad mengadakan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar; (ii) keharusan meningkatkan mutu pendidikan berupa, antara lain, penyempurnaan kurikulum, penyediaan berbagai sarana pendidikan, dan peningkatan kemampuan tenaga pengajar lewat berbagai bentuk pendidikan serta latihan; (iii) penyempurnaan sistem pendidikan dengan penelitian dan pengembangan sesuai dengan tantangan zaman dan kebutuhan pembangunan; (iv) peningkatan partisipasi masyarakat dengan pengembangan dan pemanfaatan berbagai wadah dan sumber pendidikan; (v) penyempurnaan pelaksanaan interaksi antara pendidikan dan pembangunan di mana manusia dijadikan pusat perhatian pendidikan.
    Karena adanya anggapan bahwa guru mempunyai gaji yang besar dan dijadikan sebagai patokan ideal di masyarakat, jadi tak heran kebanyakan lulusan dari prodi TP banyak yang mengambil keputusan untuk menjadi guru. Padahal peluang dari guru untuk tahun ini sangat dibatasi. Karena adanya ketidak singkronan antara jumlah guru yang tersedia dengan jumlah lowongan pekerjaan guru yang tersedia. Oleh karena itu dalam prodi ini terdapat tiga (3) konsentrasi yang wajib diambil oleh mahasiswa yang mengambil atau menempuh studi teknologi pendidikan (1) Pengambang Kurikulum (2) Pengembang Teknologi Pembelajaran (3) Multimedia. Dimana dalam pengambilan konsentrasi tersebut mahasiswa maksimal harus mempunyai dua (2) hak untuk mengambil konsentrasi. Adanya pemilihan konsentrasi dikarenakan adanya harapan dari pihak jurusan terkhusus pada pihak ketua jurusan, “Mahasiswa lulusan TP adalah lulusan yang The Best “, begitulah kata Bapak Hardjono (Dosen TP UNNES). Besar harapan lulusan TP mampu berkontribusi secara nyata dalam segala bidang paling utama dalam tingkat teknologi sehingga dapat tercipta generasi yang The Best.
    Pada era ini, lulusan prodi apapun tidak terlalu dipertanyakan yang terpenting harus mempunyai skill dan kemampuan yang sedang dibutuhkan. Prodi Teknologi Pendidikan mempunyai banyak peluang kesempatan kerja. Karena dalam realita sekarang ini tak jarang ditemukan bahwa mereka bekerja tidak sesuai jurusan dan ijasah yang mereka punyai. Peluang kerja sebenarnya selalu ada, tetapi tinggal bagaimana kita menerapkan ilmu yang kita dapat serta bagimana cara kita untuk menghadapi tantangan itu dengan selalu belajar. Berdasrkan dari data alumni Universitas Negeri Semarang Prodi Teknologi Pendidikan menyebutkan bahwa beberapa profesi yang mereka tekuni sampai saat ini yaitu TNI, pengembang kurikulum, kedinasan, wirausaha, pusat diklat, dan masig banyak lagi. Jadi dapat disimpulkan bahwa lulusan Program Studi Teknologi Pendidikan tak harus jadi guru tetapi profesi lainpun juga bisa. Tergantung bagaimana kita bisa atau tidaknya menerapkan ilmu yang kita dapatkan selama kita kuliah.
    “Segala profesi memang mempunyai spesifikasi masing-masing yang luar biasa, tetapi yang lebih luar biasa adalah mereka yang masih selalu belajar, dan mampu menjawab tantangan zaman”.    
    Biodata Penulis

    Nur Vita, lahir di Klaten 1 Februari 1997.

    Ia adalah mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang Angkatan 2015. Gadis yang aktif beroraganisasi di UKM RIPTEK, UKM Fakultas GS2 dan UKM CRC ini mempunyai hobi menulis dan update. Selain ia mempunyai hobi menulis dan update ia juga sering menjadi MC dalam acara UKM dan acara tingkat Fakultas. Selain aktif berorganisasi, ia juga ikut dalam kelas Robotika dengan mimpi ingin menjadi juara dalam bidang robotik mulai dari tingkat regional sampai ke tingkat internasional. Dapat dihubungi di 087803887923, vitaemo1@gmail.com atau add facebook N Vita (Vita Akuro Akita) follow twiter @vita_akuro follow instagram @vitaakuro
  • Recent Posts

    WHAT WE DO

    We've been developing corporate tailored services for clients for 30 years.

    CONTACT US

    For enquiries you can contact us in several different ways. Contact details are below.

    TEPLERRY

    • Street :Road Street 00
    • Person :Person
    • Phone :+045 123 755 755
    • Country :POLAND
    • Email :contact@heaven.com

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation.